Politik

Resensi Buku: “Saya Bukan Siapa-Siapa”, Jejak Ketekunan Retno Marsudi Mengukir Diplomasi Indonesia di Panggung Dunia

Jakarta – Di balik sosok tenang dan bersahaja, Retno L.P. Marsudi telah mencatatkan sejarah sebagai perempuan pertama yang dipercaya menjabat Menteri Luar Negeri Republik Indonesia.

Perjalanan hidup dan karier diplomat senior tersebut kini terangkum dalam buku “Saya Bukan Siapa-Siapa: Rekam Jejak Retno Marsudi”, sebuah biografi yang tidak hanya mengisahkan pencapaian seorang negarawan, tetapi juga menyuguhkan nilai-nilai ketekunan, integritas, dan kepemimpinan.

Buku setebal 120 halaman karya Luki Aulia, B. Josie Susilo, dan Kris Mada yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas pada 2024 ini menghadirkan kisah Retno Marsudi melalui dua sudut pandang.

Selain penuturan langsung dari Retno, pembaca juga diajak mengenal sosoknya melalui cerita para kolega, rekan kerja, sahabat, hingga orang-orang yang pernah berinteraksi dengannya.

Lahir dari keluarga sederhana di Semarang, Jawa Tengah, Retno tumbuh dengan semangat belajar yang tinggi.

Sejak usia muda, ia telah menunjukkan disiplin, kerja keras, serta tekad untuk terus berkembang. Berbekal kegigihan tersebut, Retno berhasil menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, sebelum akhirnya mengabdikan diri sebagai diplomat Indonesia.

Buku ini mengisahkan perjalanan karier Retno sejak menjadi diplomat muda hingga dipercaya mengemban berbagai posisi strategis, termasuk sebagai Duta Besar Republik Indonesia sebelum akhirnya dilantik menjadi Menteri Luar Negeri RI.

Pembaca diajak memahami bahwa keberhasilan tersebut tidak diraih secara instan, melainkan melalui proses panjang yang penuh tantangan, dedikasi, dan konsistensi.

Tidak hanya menampilkan perjalanan karier, buku ini juga mengulas kiprah Retno dalam berbagai forum internasional. Perannya dalam memperjuangkan kepentingan nasional Indonesia, diplomasi perdamaian, perlindungan warga negara Indonesia di luar negeri, hingga isu pemberdayaan perempuan menjadi bagian penting yang memperlihatkan bagaimana diplomasi Indonesia dijalankan secara aktif dan konstruktif.

Selama menjabat Menteri Luar Negeri periode 2014-2024, Retno dikenal konsisten mengedepankan politik luar negeri bebas aktif, diplomasi kemanusiaan, serta penguatan posisi Indonesia di berbagai forum global.

Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada gaya penyampaiannya yang ringan namun tetap kaya informasi. Bahasa yang digunakan mudah dipahami sehingga dapat dinikmati oleh pembaca umum, mahasiswa, aparatur sipil negara, maupun kalangan yang memiliki ketertarikan terhadap dunia diplomasi dan kepemimpinan.

Lebih dari sekadar biografi, buku ini memperlihatkan sisi personal Retno Marsudi sebagai seorang ibu, istri, sekaligus pemimpin yang mampu menjaga keseimbangan antara kehidupan keluarga dan tanggung jawab kenegaraan. Nilai-nilai integritas, kesederhanaan, kerja keras, serta keteguhan prinsip menjadi benang merah yang mengalir di setiap bab.

Judul “Saya Bukan Siapa-Siapa” menjadi refleksi bahwa kesuksesan tidak selalu lahir dari latar belakang yang istimewa. Melalui ketekunan, pendidikan, dan komitmen terhadap pengabdian, seseorang dapat memberikan kontribusi besar bagi bangsa dan memperoleh kepercayaan di tingkat internasional.

Secara keseluruhan, buku ini layak menjadi bacaan inspiratif bagi generasi muda, mahasiswa, diplomat, aparatur pemerintah, maupun masyarakat umum yang ingin memahami perjalanan salah satu diplomat terbaik Indonesia.

Tidak hanya memperkaya wawasan mengenai diplomasi Indonesia, buku ini juga mengajarkan bahwa kerja keras, integritas, dan ketulusan merupakan fondasi utama dalam membangun kepemimpinan yang berpengaruh.

Identitas Buku

Judul: Saya Bukan Siapa-Siapa: Rekam Jejak Retno Marsudi
Penulis: Luki Aulia, B. Josie Susilo, Kris Mada
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Tahun Terbit: 2024
Genre: Biografi
Ukuran: 15 x 23 cm
Jumlah Halaman: 120 halaman

Penilaian Resensi

Kelebihan:

  • Menghadirkan kisah inspiratif dari berbagai sudut pandang.
  • Memadukan fakta sejarah, perjalanan hidup, dan dinamika diplomasi Indonesia.
  • Bahasa ringan, mengalir, dan mudah dipahami.
  • Sarat nilai kepemimpinan, integritas, serta semangat pengabdian.

Kekurangan:

  • Karena hanya 120 halaman, sejumlah peristiwa diplomasi besar belum dibahas secara mendalam. Pembaca yang ingin mengetahui kiprah diplomasi Retno secara lebih komprehensif dapat melanjutkan dengan membaca buku lanjutan karya penulis yang sama berjudul “Jejak Diplomasi Retno Marsudi: Tegas dalam Prinsip, Lentur dalam Cara”, yang mengulas secara lebih rinci perjalanan diplomasi Indonesia sepanjang 2014–2024.

(Gate 13/Foto: Ist./Dok.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.