Wayang Beber Perlu Dilestarikan dengan Modifikasi

Jakarta |
Wayang Beber, seni tutur sekaligus seni pertujukan masyarakat Jawa Timur dari abad ke 13 dengan cerita Panji sudah go international sampai Asia dan Eropa, bahkan Madagaskar.

Namun untuk pelestariannya perlu modifikasi setelah dilakukan penelitian dari sumbernya.

Demikian rangkuman dari pertemuan komunitas wayang beber dan pergelaran di Museum Wayang di Kota Tua Jakarta, Minggu (13/8).

Pertemuan itu diikuti komunitas Wayang Beber Metropolitan pimpinan Samuel Santoso Adi Prasetyo, dua orang sarjana antropologi budaya dari Kroasia yaitu Marina Pretkovic (29) dan Tea Skrinjavic (27).

Disamping itu juga hadir Sandri yang mewakili Kementerian Luar Negeri, pelaku seni pedalangan Sumardi Dalang yang juga Kepala Satuan Pelayanan Museum Wayang dan 2 pejabat Museum Seni, Missari dan Lilik Junaidi.

“Kami pertama kali tertarik Wayang Beber tahun 2013 waktu di Indonesia. Melihat artefak gulungan Wayang Beber, generasi muda tak ada yang peduli,” kata Tea Skrinjavic dalam sesi tanya jawab.

Makanya, lanjut Tea, kami mencari sumber-sumber yang berbeda untuk mendapatkan informasi yang sama. Ucapan itu dibenarkan Marina Pretkovic teman sejalan dan sesama anthropolog itu.

Selanjutnya Tea dan Marina yang mengambil S2 Sejarah Seni itu tahun 2016 melakukan penelitian ke Pacitan, Surakarta dan Yogyakarta. Mereka dibantu Kementerian Luar Negeri RI, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dan lembaga swadaya masyarakat internasional.

Sambil menunjukkan film dokumenter hasil rekaman peristiwa sewaktu penelitian di beberapa daerah di Jawa, Tea menjelaskan di Wonosari, Yogyakarta ternyata tak terdapat peninggalan Wayang Beber.

Dari hasil penelitian itu dibukalah pameran Wayang Beber Indonesia di Museum Ethnografic Zagreb, Kroasia pada 25 Januari 2017.

Gulungan Wayang Beber dengan cerita Panji Semirang buatan tahun 1946-1947 sebanyak 6 gulung terbuat dari kertas daluwang pernah dilihatnya di Museum Etnogtafi Negeri Belanda. Demikian pula di Museum Osaka, Jepang juga dijumpai gulungan Wayang Beber buatan tahun 1890.

Untuk itu Tea mengungkapkan dia bersama timnya sedang menulis buku tentang Wayang Beber tersebut.

Samuel Santoso dalam forum tersebut mengaku telah mengawali pelestarian Wayang Beber dengan mendirikan komunitas Wayang Beber Metropolitan.

“Namun kalau ceritanya itu-itu saja, tak akan menjawab permasalahan kekinian. Makanya cerita Panji kita ambil spiritnya saja,” ujarnya.

Menurut Samuel, cerita Panji mengandung nilai ketidaksepahaman, penyamaran, pengembaraan untuk mencari tujuan hati dan akhir yang bahagia.

Samuel juga berpendapat banyak orang senang wayang klasik karena bentuknya, numun permasalahannya adalah bahasa. “Nah itulah yang harus dijawab untuk tetap melanjutkan tontonan wayang menjadi tuntunan,” sebutnya.

Sumardi Dalang maupun Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) DKI menilai pertunjukan seni Wayang Beber ini lebih tua dibanding wayang kulit purwa. Sebab Wayang Beber sudah ada di zaman Daha (Kediri) dan Jenggala (Singhasari) abad ke 12 dan abad ke 13.

Wayang Kulit, sambung Sumardi, baru muncul ketika jaman Sunan Kalijaga dari Walisanga pada abad ke 15.

“Memang perlu modifikadi agar pertunjukan Wayang Beber lebih menarik untuk ditonton. Misalnya dalangnya harus di depan beberan wayang, dan musiknya yang lebih hidup,” ujar Sumardi.

Menurut Sumardi Museum Wayang juga memiliki koleksi belasan gulung Wayang Beber kuno dari Pacitan dan dari Klaten. Hal itu dibenarkan Darudjimat yang juga mengamati dan mengharapkan pedalangan Wayang Beber lebih atraktif lagi ke depannya.

Berita: Pri | Foto: Istimewa/Pri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *