Tirta Yatra Awali Tahun Kerja 2026, PN Amlapura Perkuat Integritas dan Soliditas Aparatur
Amlapura – Mengawali kalender kerja tahun 2026, Keluarga Besar Pengadilan Negeri (PN) Amlapura melaksanakan rangkaian tirta yatra ke sejumlah pura di Kabupaten Karangasem dan Kabupaten Buleleng, Kamis (15/1) hingga Jumat (16/1).
Kegiatan spiritual yang berlangsung maraton dari sore hingga pagi ini menjadi bagian dari pembinaan mental aparatur untuk memperkuat integritas, soliditas, dan keimanan dalam menjalankan tugas peradilan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan persembahyangan bersama di Padmasana PN Amlapura sebagai simbol permohonan keselamatan dan kelancaran. Rombongan kemudian bertolak pukul 17.30 WITA menuju Pura Ayu Lempuyang, Karangasem, sebagai titik awal perjalanan.
Selanjutnya, rombongan melanjutkan tirta yatra ke wilayah Buleleng dengan persembahyangan di Pura Ponjok Batu, Pura Pabean, Pura Pulaki, Pura Pasar Agung, Pura Melanting, Pura Kertha Kawat, hingga berakhir di Pura Pemuteran pada Jumat (16/1) pukul 07.00 WITA. Setelah seluruh rangkaian selesai, rombongan kembali ke Amlapura pada pukul 11.30 WITA.
Ketua PN Amlapura menegaskan, tirta yatra bukan sekadar perjalanan religi, melainkan bagian dari strategi pembinaan mental aparatur peradilan. Menurutnya, ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa merupakan fondasi utama integritas hakim dan aparatur pengadilan.
“Sebagai aparatur peradilan, integritas tidak hanya dibangun melalui sistem dan aturan, tetapi juga melalui kekuatan spiritual. Perjalanan lintas hari ini melambangkan dedikasi dan daya tahan bersama. Jika secara spiritual kita kuat, maka dalam menjalankan tugas kedinasan kita akan tetap teguh menjaga amanah dan kejujuran,” ujarnya.
Selain menguji ketahanan fisik, perjalanan semalam suntuk tersebut juga menjadi latihan mental. Perpindahan dari satu pura ke pura lainnya melatih disiplin, kesabaran, pengendalian diri, serta fokus di tengah kelelahan.
Nilai-nilai tersebut dinilai relevan dengan tantangan tugas yudisial yang menuntut keteguhan sikap dalam menghadapi tekanan, kompleksitas perkara, dan ekspektasi publik.
Tirta yatra ini juga dipandang memiliki keterkaitan langsung dengan peningkatan kualitas pelayanan publik. Aparatur yang ditempa secara spiritual dan emosional diharapkan mampu melayani masyarakat pencari keadilan dengan empati, kesabaran, dan sikap humanis.
Integritas yang diteguhkan dalam kegiatan ini menjadi landasan agar setiap putusan dan layanan administratif mencerminkan kejujuran serta tanggung jawab.
Di sisi lain, kegiatan ini turut menjadi ruang mempererat kebersamaan lintas struktural. Interaksi yang cair antara pimpinan, hakim, dan staf selama perjalanan diharapkan memperkuat sinergi internal, sehingga pelaksanaan tugas peradilan dapat berjalan lebih solid dan profesional.
Tirta yatra tersebut juga merefleksikan implementasi nilai BerAKHLAK, khususnya nilai Harmonis, yang menekankan kebersamaan dan saling menghargai. Lebih jauh, kegiatan ini menjadi pengingat atas komitmen pakta integritas yang telah diikrarkan seluruh aparatur PN Amlapura.
Tidak hanya bermakna spiritual, kegiatan ini juga mencerminkan penghormatan terhadap kearifan lokal Bali. Tradisi tirta yatra sebagai perjalanan suci menjadi jembatan antara nilai budaya, spiritualitas, dan profesionalisme aparatur peradilan.
Dengan demikian, PN Amlapura menegaskan komitmennya untuk menghadirkan peradilan yang agung, berintegritas, humanis, dan dipercaya masyarakat. (Gate 13/Foto: Ist./Dandapala)
Discover more from sandimerahputih.com
Subscribe to get the latest posts sent to your email.

