Rudiantara: Budaya adalah Sarana Tingkatkan Literasi Paling Jitu

Jakarta |
Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mengemukakan, perkembangan teknologi di Indonesia saat ini belum diiringi peningkatan literasi digital masyarakat.

Maka itu, Menkominfo menegaskan budaya menjadi salah satu nilai penting yang dapat dijadikan medium menangkal informasi bohong atau hoaks.

Diharapkan oleh Rudiantara, dengan pembentukan budaya, tingkat kemampuan masyarakat untuk memilih konten dapat ditingkatkan lagi secara signifikan.

“Budaya adalah sarana meningkatkan literasi paling jitu. Budaya memiliki sistem nilai yang paling penting,” katanya dalam acara Diskusi Bersama Mahasiswa Islam: Budaya adalah Jurus Jitu Penangkal Hoaks, di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Kamis (29/3).

Di hadapan ratusan mahasiswa Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ), Rudiantara menyatakan pendekatan budaya perlu dilakukan sejalan dengan harapan pemerintah meningkatkan literasi digital masyarakat.

Menurutnya, pendekatannya harus melalui pendekatan budaya setempat. Disamping itu, ada juga pendekatan pakai petunra (pertunjukkan rakyat).

“Siapa pemimpinnya? Dalang. Nah, kami titipkan pesan disitu. Kalau pemerintah langsung yang bicara, masyarakat bosan,” tutur Menkominfo Rudiantara dilansir laman kominfo.go.id.

Selama ini, lanjut Rudiantara, sosialisasi untuk mengajak masyarakat menepis hoaks sudah dilakukan dengan beragam cara, mulai dari dakwah-dakwah hingga pertunjukan rakyat.

“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, perlu peran serta masyarakat dalam mengatasi hoaks ini. “Pemerintah tidak bisa menyelesaikan semuanya tanpa bantuan masyarakat,” tambahnya.

Peningkatan literasi digital bukanlah satu-satunya jalan yang dilakukan Kementerian Kominfo, antara lain pemberian batasan akses dalam dunia siber juga menjadi salah satu tugas pemerintah untuk melindungi masyarakat dari konten negatif.

Disebutkan oleh Menkominfo, ciri-ciri hoaks antara lain pesan yang didahului kalimat ‘Dari kamar sebelah’, mengatasnamakan kelompok tertentu, dan diakhiri dengan ajakan untuk memviralkan.

“Ciri-cirinya antara lain, walaupun bukan semuanya ya. Nomer satu dari kamar sebelah, loh kamarnya siapa? Kedua, mengatasnamakan kelompok tertentu. Ketiga, diakhiri dengan kata ayo viralkan,” jelasnya.

Menteri Rudiantara mengajak ratusan mahasiswa-mahasiswi PTIQ agar tidak mudah tertipu dengan hoaks. “Penyebaran hoaks tersebut tidak ada manfaatnya melainkan hanya buang-buang pulsa saja,” imbuhnya.

Berita: Mh | Foto: Istimewa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *