Pemerintah Kembangkan Kurikulum SMK yang Dibutuhkan Dunia Kerja

Jakarta |
Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian melakukan pilot project pengembangan kurikulum yang link and match dengan Dunia Usaha dan Industri (DUDI).

Pengembangan kurikulum jurusan kopi menjadi salah satu fokus yang dipilih. Alasannya, karena permintaan komoditas kopi dan industri perkopian yang terus meningkat dan menjadi tren ke depan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Ekonomi) Darmin Nasution mengatakan, sejak 2 tahun lalu, pihaknya telah merancang program besar yang diharapkan menjadi tulang punggung pembangunan negara kita ke depan.

“Yaitu Kebijakan Pemerataan Ekonomi. Salah satu pilarnya adalah pendidikan dan pelatihan vokasi,” ujar ke Menko Darmin Nasution dalam kunjungan kerjanya ke SMK Pilot Project Kurikulum Kopi, SMK PPN Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Senin (24/9).

Disebutkan oleh Darmin, ada 3 hal yang perlu dilakukan dalam melakukan perbaikan lembaga vokasi yang link and matchdengan DUDI dan dilakukan dengan not bussines as usual.

Pertama, dengan mendorong jurusan yang menjadi tren seperti jurusan kopi dan animasi. Kedua, dengan kurikulum sistem modul dan lebih fokus pada praktik (30:70). Kemudian ketiga, fleksibilitas sekolah dalam menyusun kurikulum bersama DUDI.

Menko Darmin menegaskan, pelaksanaan pilot project ini merupakan implementasi dari RoadmapKebijakan Pengembangan Vokasi di Indonesia 2017-2025.

Selain itu, hal ini juga sejalan dengan arahan Presiden bahwa fokus pembangunan tahun 2019 adalah peningkatan kualitas SDM, utamanya melalui vokasi.

“Pilot project ini sebagai langkah awal untuk mendorong perbaikan lembaga vokasi utamanya SMK secara masif. Kami berharap ke depan SMK dapat menghasilkan lulusan SDM yang kompeten, berdaya saing tinggi dan sesuai kebutuhan DUDI,” sebutnya.

Sementara Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan, dan Daya Saing Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Kemenko Perekonomian Rudy Salahuddin menjelaskan, bahwa Siswa SMK jurusan kopi akan menyelesaikan masa belajarnya selama 3 tahun dan akan mendapatkan 6 sertifikasi kompetensi di bidang perkopian.

Kompetensi tersebut, antara lain pada tahun pertama, siswa mendapatkan kompetensi pembibitan dan budidaya kopi, diharapkan siswa mampu menghasilkan bibit yang berkualitas dan menghasilkan tanaman kopi yang produktif dan buah yang berkualitas.

Kemudian di tahun kedua, siswa mendapatkan kompetensi pasca panen dan pengolahan biji kopi (roasting), diharapkan siswa mampu mengolah buah kopi menjadi green bean berkualitas dan mengolah green bean menjadi biji kopi bernilai tambah dengan roasting.

terakhir, di tahun ketiga, siswa mendapatkan kompetensi barista dan kewirausahaan, diharapkan siswa mampu menyajikan minuman kopi yang memiliki cita rasa yang khas dan membuat rencana usaha serta keuangan dasar dalam menjalankan usaha.

Selanjutnya, kata Darmin, pilot project ini akan ditindak lanjuti oleh kementerian dan lembaga terkait untuk melakukan langkah-langkah perbaikan pada SMK, baik pada tingkat pusat maupun di daerah serta mereplikasi agar dapat dilakukan lebih masif.

“Jadi saya mengharapkan semangat dari semua pihak, khususnya SMK PPN Tanjungsari. Kita harus tunjukkan bahwa sekolah ini bisa jadi contoh untuk sekolah di daerah lain dan sekolah dengan jurusan lainnya,” pungkasnya.

Berita: Sigit | Foto: Istimewa/ekuin.go.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.