Pemerintah Kembangkan Berbagai Inovasi Pembukaan Lahan Tanpa Bakar

Jakarta |
Penyiapan lahan tanpa membakar menjadi terobosan dalam pecegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Berbagai inovasi diciptakan sebagai alternatif cara membuka, menyiapkan, dan atau membersihkan lahan tanpa membakar, untuk areal pertanian atau pun perkebunan.

Inovasi-inovasi tersebut antara lain rekayasa bioteknologi, pemanfaatan bahan bakaran menjadi biochar, asap cair, briket, dan arang aktif.

Melalui talkshow ‘Penyiapan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) dalam Mendorong Pencegahan Karhutla di Tingkat Tapak’ yang diselenggarakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada acara Hari Aksi Pengendalian Perubahan Iklim Tahun 2018, dipaparkan Beragam inovasi yang telah dikembangkan dan diterapkan oleh KLHK, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan Kementerian Pertanian (Kementan).

Peneliti dan Ketua Dewan Riset Badan Litbang dan Inovasi (BLI) KLHK Gustan Pari memaparkan pemanfaatan bahan bakaran dari limbah organik atau biomassa penebangan kayu, seperti potongan kayu, sebetan, sampah, seresah, ranting, serta serbuk kayu gergajian untuk dijadikan produk yang bermanfaat untuk masyarakat itu sendiri.

“Masyarakat Palangkaraya sudah mencoba mengolah bahan bakaran bekas tebangan menjadi arang yang dapat berfungsi membangun kualitas dan kondisi tanah baik secara fisik, kimia, dan biologi tanah,” terang Gustan Pari.

Menurut Gustan, arang diketahui sebagai pembenah tanah. Karena arang mempunyai pori-pori yang dapat menyerap dan menyimpan air, panas dan hara, kemudian hara tersebut akan dikeluarkan kembali sesuai kebutuhan.

Selain arang, sambungnya, limbah organik atau biomassa penebangan juga dapat dimanfaatkan menjadi biochar, asap cair, asam cuka, arang aktif, dan nano karbon.

Sementara BPPT mengembangkan rekayasa bioteknologi melalui pembuatan biopeat. Dijelaskan oleh Direktur Pusat Teknologi Bio Industri BPPT Asep Riswoko, rekayasa ini dibuat dengan mengembangkan mikroba yang dapat mengolah lahan gambut secara alami, dapat bertahan pada lahan gambut, dan berguna bagi pertanian.

“Mikroba biopeat ini dapat mengurangi keasaman tanah dan bertahan hidup dan bisa memenuhi kebutuhan ph tanah utk pertanian,” jelas Asep.

Sebagaimana diketahui, dalam Undang-undang Nomor 39 Tahun 2015 tentang Perkebunan, disebutkan setiap pelaku usaha perkebunan dilarang membuka, dan atau mengolah lahan dengan cara membakar.

Hal ini menjadi dasar bagi semua pihak untuk turut menjaga lingkungan dari kebakaran hutan dan lahan. Kementan juga melaksanakan program kegiatan pembukaan dan/atau pengolahan lahan perkebunan tanpa membakar secara manual atau tenaga manusia, juga dengan mekanis atau tenaga mesin.

Kasubdit Gangguan Usaha Dampak Perubahan Iklim dan Pencegahan Kebakaran Ditjen Perkebunan Kementan Agus Hartono menjelaskan, bahwa kegiatan pembukaan lahan perkebunan tanpa membakar dapat dilakukan melalui mengimas dan atau menumbangkan pohon, merencek dan merumpukan kayu, membuat rintisan dan membagi petak kebun, membuat jalan dan parit, membuat terasiring, membuat pancang jalur tanam atau pancang kepala, dan membersihkan jalur tanam.

Menurut Agus, inovasi-inovasi ini diciptakan untuk menjawab tantangan masa kini, dimana pembukaan atau penyiapan lahan tanpa membakar menjadi solusi untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

“Diharapkan masyarakat, petani, pekebun dapat menerapkan inovasi-inovasi tersebut sehingga dapat mengurangi intensitas karhutla di Indonesia,” harapnya optimis.

Berita: Mh | Foto: Istimewa/Ilustrasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: