Pancasila ada di Gotanda

PAGI itu rombongan dari tanah air hendak melakukan kunjungan ke beberapa institusi di Jepang. Mereka berangkat dari Hotel Gotanda dimana menginap. Masih di lobby hotel ada anggota rombongan yang hak sepatunya patah. Nama pemilik sepatu itu Rahmah Novera. Tentu saja, wanita muda berhijab ini panik karena hanya membawa satu pasang sepatu, dan masih pagi sehingga tidak mungkin untuk membeli sepatu yang baru.

Dalam kebingungan rombongan, tiba-tiba ada wanita muda Jepang yang melihat kejadian itu menyapa dengan mengucapkan beberapa kata dan pergi membawa serta kopernya. Mereka tidak tahu apa yang diucapkan, karena tidak ada satupun diantara anggota rombongan yang bisa berbahasa Jepang.

Pimpinan rombongan yang menduga si wanita Jepang itu melecehkan sempat mengumpat dalam hati. Tapi betapa kagetnya, dalam beberapa saat kemudian ternyata wanita Jepang itu kembali lagi dan membawa “lem sepatu” yang baru saja dibeli dari convenient store hotel. Dengan cekatan wanita itu minta sepatu Rahmah yang haknya patah, membantu mengelem untuk memperbaiki, dan Alhamdulillah sepatu pun kembali baik dan dapat dipakai.

Kejadian yang baru saja disaksikan rombongan di tengah kota Tokyo, yang warganya selalu begerak terburu-buru dan individualistis ini rasanya sangat sulit dipercaya, bahkan di Jakarta sekalipun tidak akan ditemukan. Orang asing umumnya melihat kehidupan keseharian Jepang seperti di cat walk, berjalan cepat dan bergaya dengan pakaian berbagai model. Dalam kehidupan yang sesungguhnya banyak yang tidak tahu bahwa, salah satu nilai luhur budaya Jepang yang masih mengakar hingga kini adalah “keikhlasan untuk menolong” termasuk kepada orang asing. Namun pemandangan wanita cantik Jepang yang berdandan cosmopolitan dalam menolong wanita asing berhijab ini sungguh luar biasa. Ia tidak merasa ragu untuk berdekatan dan menolong orang asing meskipun dengan perbedaan suku, agama, ras, golongan, bahkan penampilan. Begitu mudahnya ia mengamalkan sila Pancasila.

Kuatnya akar nilai luhur budaya itu menurut kesaksian Tony Dickensheets seorang pendidik dari Charlottesville, Virginia yang pernah tinggal di Jepang, karena peran kyoiku mama atau education mama. Lebih dari negari-negari lain, sepertinya sistim pendidikan dan kebudayaan mereka mengandalkan sepenuhnya peran perempuan dalam membesarkan anak. Karena itu dipegang teguh kebijakan ryosai kentro (isteri yang baik dan ibu yang arif), yang menetapkan posisi perempuan selaku manajer urusan rumah tangga dan perawat anak-anak bangsa. Sejak dulu filosofi ini merupakan bagian mindset Jepang dan menjadi kunci pendidikan dari generasi ke generasi. Bahkan a purely Japanese phenomenon ini diyakini juga telah menjadi pendorong suksesnya kemajuan dan ekonomi bangsa.

Merujuk pada cerita Tony Dickensheets itu tentu keikhlasan menolong seperti yang dilakukan wanita muda Jepang di Gotanda dapat disaksikan dalam berbagai bentuk yang lain. Meskipun demikian, kami semua mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada si cantik Maria Yamada yang rela menghabiskan waktu, uang, dan tenaga untuk memperbaiki sepatu Rahmah Novera yang haknya patah. Bukan hanya karena telah membuat sepatunya dapat dipakai kembali, tapi kejadian di Gotanda itu telah mengajarkan kepada kami semua untuk tidak ragu dalam mangamalkan sila-sila Pancasila kepada seluruh anak-anak bangsa, bahkan kepada warga dunia. Perbedaan suku, ras, agama, golongan, dan penampilan tidak boleh menjadi penghalang, karena disitulah kebesaran pengamalan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan.

Gotanda, Tokyo, 13 Nopember 2019
Kolier L. Haryanto 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: