Mentawai dan Geopolitik Keindahan: Ketika Alam Menjadi Bahasa Diplomasi Indonesia
Oleh Kombes Pol. Guritno Wibowo*
Kepulauan Mentawai bukan sekadar destinasi wisata unggulan, melainkan aset geopolitik lunak (soft power) Indonesia yang bekerja secara senyap namun efektif. Terletak di sisi barat Sumatera, langsung berhadapan dengan Samudera Hindia, Mentawai berada di jalur strategis dunia, bukan hanya jalur pelayaran, tetapi juga jalur persepsi global tentang Indonesia.
Dalam konteks ini, Mentawai adalah etalase alam, budaya, dan nilai kebangsaan yang berbicara kepada dunia tanpa pidato diplomatik.
Ombak Mentawai yang dikenal sebagai salah satu terbaik di planet ini telah menjadikan wilayah ini magnet global. Peselancar profesional, petualang internasional, hingga tokoh dunia pernah menjejakkan kaki di pulau-pulau ini.
Aktor Hollywood Paul Walker, musisi dunia Anthony Kiedis (Red Hot Chili Peppers), serta deretan peselancar elite internasional seperti Kelly Slater, Mick Fanning, dan penjelajah ombak legendaris Martin Daly, tercatat pernah datang atau memiliki keterikatan kuat dengan Mentawai. Kehadiran mereka bukan sekadar cerita hiburan, melainkan penanda bahwa Mentawai telah masuk dalam imajinasi global sebagai wilayah prestisius.
Di sinilah geopolitik pariwisata bekerja. Ketika tokoh dunia datang bukan karena promosi berlebihan, tetapi karena kualitas alam yang otentik, maka citra Indonesia dibangun secara alami: sebagai negara maritim besar, stabil, ramah, dan kaya nilai.
Mentawai menjadi contoh bagaimana alam dapat menjadi instrumen diplomasi kultural, lebih persuasif daripada kampanye formal, lebih membekas daripada slogan.
Namun Mentawai tidak hanya menawarkan keindahan visual dan sensasi olahraga ekstrem. Ia menghadirkan kedalaman peradaban. Masyarakat adat Mentawai dengan kearifan lokalnya menunjukkan kepada dunia bahwa modernitas tidak harus memutus hubungan dengan alam. Hutan, laut, dan manusia hidup dalam satu kesatuan kosmologis.
Dalam konteks global yang dilanda krisis iklim dan kelelahan peradaban, Mentawai justru tampil sebagai antitesis: tenang, berimbang, dan berakar.
Di titik ini, nasionalisme menemukan bentuknya yang baru. Bukan nasionalisme yang lantang, tetapi nasionalisme yang berwibawa. Menjaga Mentawai berarti menjaga martabat Indonesia. Sebab jika kawasan sekelas Mentawai rusak oleh eksploitasi jangka pendek, maka yang hilang bukan hanya ekosistem, melainkan juga posisi tawar Indonesia dalam peta pariwisata dan budaya dunia.

Menyebut Mentawai sebagai “surga tersembunyi” seharusnya tidak dimaknai sebagai undangan eksploitasi, melainkan sebagai amanah sejarah. Indonesia memiliki kesempatan langka untuk menjadikan Mentawai simbol patriotisme ekologis: membuktikan bahwa bangsa besar mampu mendunia tanpa menjual jiwanya, mampu maju tanpa mengorbankan akar budaya dan spiritualitasnya.
Pada akhirnya, Mentawai bukan hanya milik Sumatera Barat, bukan pula semata milik Indonesia hari ini. Ia adalah pesan Indonesia kepada dunia bahwa kekuatan sejati sebuah bangsa tidak selalu datang dari senjata atau angka ekonomi, melainkan dari kemampuannya menjaga keindahan, kearifan, dan keharmonisan hidup di tengah arus globalisasi.
*Penulis adalah Inspektur Pengawasan Daerah (Irwasda) Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Barat.
Discover more from sandimerahputih.com
Subscribe to get the latest posts sent to your email.

