Martha Christina Tiahahu, Wanita Pejuang dari Nusalaut

Oleh: Bagus Ariwangsa

2 Januari 2021 menjadi hari istimewa bagi Provinsi Maluku dalam memperingati Hari Pahlawan Nasional Martha Christina Tahahu Ke-203. Secara resmi Martha Christina Tiahahu diakui sebagai Pahlawan Nasional tanggal 20 Mei 1969 melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 012/TK/Tahun 1969. Diberikan gelar pahlawan pada Martha Christina Tiahahu tidak terlepas dari perannya dalam perlawanan melawan penjajah Belanda di Maluku.

Jika saat ini tonggak sebuah emansipasi wanita hadir sebagai sebuah bentuk perjuangan dalam memperoleh keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, berbeda hal dengan 203 tahun yang lalu saat sosok gadis umur 17 tahun yang mengangkat senjata demi membebaskan tanah kelahirannya dari penjajahan Belanda, gadis tersebut adalah Martha Cristina Tiahahu.

Martha Christina Tiahahu gadis muda kelahiran Desa Abubu, Nusalaut yang turut langsung perang melawan tentara kolonial Belanda. Martha Christina Tiahahu sendiri merupkan salah satu pahlawan nasional termuda, mengingat diusia 17 tahun keterlibatannya sebagai salah satu pemimpin tentara rakyat Maluku dalam mengusir Tentara Kolonial Belanda.

Sosok gadis pemberani ini dikenal dengan rambut panjangnya yang terurai kebelakang, dikepalanya terikat sebuah kain berwarna merah dan dengan gagahnya gadis muda ini bersama ayahnya mengangkat senjata mengusir para penjajah di tanah Maluku. Meskipun sangat muda, dikalangan pejuang saat itu gadis muda ini begitu dihormati karena sosoknya yang pemberani serta teguh dalam memperjuangkan cita-cita kemerdekaannya.

Salah satu kisah perjuangannya dalam melawan penjajah yang dikenal hingga saat ini saat pertempuran melawan Belanda di Pulau Saparua yakni Desa Ouw, Ullath. Sosok gadis muda ini berhasil membangkitkan semangat kaum perempuan di desa tersebut untuk mengangkat senjata dan ikut mendampingi para laki-laki didesa tersebut dalam berperang melawan Belanda. Disinilah pertama kalinya Belanda menghadapi kaum perempuan yang mengangkat senjatanya demi tanah airnya.

Pada perang ini salah satu sosok Perwira Militer Belanda yakni Richemont berhasil dibunuh oleh pasukan Martha Christina. Kematian Richemont selanjutnya membuat para tentara Belanda semakin brutal dalam menyerang rakyat Maluku. Pertempuran sengit antara kedua belah pihakpun tidak dapat terhindarkan hingga akhirnya pasukan rakyat yang dipimpin oleh Marta Christina membalas serangan musuh dengan melempar batu, para tentara Belanda menyadari bahwa persediaan peluru pasukan rakyat sudah habis.

12 November 1817, Ayah Martha Christina beserta pasukannya akhirnya ditangkap oleh Belanda, termasuk gadis muda dari Nusalaut ini yang akhirnya tertangkap juga. Vonis hukuman dijatuhkan kepada Martha Christina yang untuk dibuang ke Jawa, sedangkan Ayahnya yakni Paulus dijatuhi hukuman mati oleh Belanda. Hukuman mati Paulus dilaksanakan pada 17 November 1817.

Meninggalnya sosok sang Ayah menjadi kehilangan terbesar bagi Martha Christina. Ibarat hidup tanpa sebuah tujuan, sosok gadis muda ini kehilangan semangat hidupnya untuk berjuang. Selanjutnya dengan menggunkan Kapal Eversten Belanda membawa Martha Christina ke Jawa untuk diasingkan. Namun tepat tanggal 2 Januari 1818 tubuh Martha Christina kian melemah hingga akhirnya meninggal saat pelayaran tersebut. Lazimnya pelayaran pada saat itu, ketika ada yang meninggal maka langsung dibuang ke Laut.

Sebuah perjuangan yang sangat besar dilakukan oleh sosok gadis muda ini, dimana gadis muda seusia itu harus melawati masa mudanya dengan ikut berjuang membebaskan tanah kelahirannya melawan Belanda. Keteguhan hati serta bulatnya tekad sosok pahlawan muda ini diharapkan mampu menginspirasi generasi muda khususnya kaum wanita saat ini dalam berjuang menghadapi berbagai tantangan. Terlepas dari berbagai peran yang disematkan bagi kaum wanita saat ini, namun melalui kisah perjuangan Martha Christina Tiahahu kita menyadari sosok wanita bukanlah pemanis dalam sebuah peperangan. Keterlibatan sosok wanita dalam sebuah perang mampu menghadirkan semangat juang bagi seluruh kaumnya kala itu, terlebih lagi alasan mereka hadir dalam sebuah medan perang merupakan wujud nyata perlawanan terhadap penjajahan kepada tanah air dan bangsanya.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: