Kerusuhan di Rutan Mako Brimob Berakhir, 5 Anggota Polri Gugur

Depok |
Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Wakapolri) Komisaris Jenderal (Komjen) Syafruddin mengatakan, Operasi Penanggulangan Kerusuhan di Rumah Tahanan (rutan) Salemba Cabang Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Kamis (10/5), telah berakhir.

Dipastikan oleh Wakapolri Komjen Syafruddin, bahwa para tahanan di Markas Komando (Mako) Brimob telah menyerahkan diri pada pukul 07.15 WIB.

“Para tahanan telah menyerahkan diri. Saat ini dilakukan isolasi dan pemindahan tahanan,” kata Komjen Syafruddin dalam konferensi pers di Mako Brimob, Depok, Jawa Barat, Kamis (10/5) pagi.

Saat terjadi kerusuhan, narapidana teroris telah menguasai Rutan sejak Selasa (8/5) malam, dengan merebut senjata petugas yang sedang berjaga dan sempat menyandera 9 anggota Polri.

Dari 9 anggota Polri yang menjadi korban penyanderaan, sebanyak 5 anggota Polri gugur dalam peristiwa itu.

Mereka yang gugur adalah Inspektur Satu Yudi Rospuji Siswanto, Brigadir Fandy Setyo Nugroho, Brigadir Satu Syukron Fadhli, Brigadir Satu Wahyu Catur Pamungkas, dan Ajun Inspektur Dua Denny Setiadi.

Sedangkan 4 anggota lainnya mengalami luka-luka. Disatu sisi seorang napi teroris berinisial BST dinyatakan tewas saat berusaha merebut senjata petugas.

Wakapolri Komjen Syafruddin dalam keterangan pers pukul 08.25 WIB menyampaikan, saat ini ke 155 narapidana penghuni Rutan Salemba Cabang Kelapa Dua telah diambil langkah-langkah pemindahan.

Ia menyebutkan, sudah ada kesepakatan dari Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen PAS) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) bahwa para tahanan teroris sedang dalam proses pemindahan ke Lapas Nusakambangan.

“Dipindahkan ke Nusakambangan. Sedang dalam perjalanan, seluruhnya,” tutup Komjen Syafruddin.

Sementara itu Menko Polhukam Wiranto dalam keterangan pers beberapa saat usai keterangan Wakapolri Komjen Syafruddin mengatakan, para narapidana terorisme itu telah merampas 36 pucuk senjata.

“Sebagian senjata merupakan hasil sitaan dari aparat kepolisian lawan terorisme sebelumnya,” ujar Wiranto.

Disebutkan Wiranto, menjelang fajar sebanyak 145 narapidana menyerah tanpa syarat, sedangkan 10 narapidana lainnya bertahan dengan memegang senjata.

“Terhadap 10 teroris yang tidak menyerah ini, aparat melakukan serbuan yang terencana makanya tadi terdengar bunyi bom. Kemudian 10 teroris yang ada di dalam menyerah,” ungkapnya.

Menko Polhukam membantah anggapan mengenai negosiasi terhadap para narapidana terorisme di Lapas Salemba Cabang Mako Brimob itu.

“Yang dilakukan aparat kepolisian, menurut Wiranto, adalah melakukan ultimatum menyerah atau mengambil risiko dari serbuan aparat keamanan,” pungkasnya.

Berita: Mh | Foto: Istimewa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *