Kepala BIN: Berani Tangkal Radikalisme, Mahasiswa Punya Peran Strategis Jaga NKRI

Semarang |
Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Polisi Purnawirawan Budi Gunawan meminta mahasiswa dan perguruan tinggi Nahdlatul Uama (NU) untuk berperan aktif dalam menangkal radikalisme dan terorisme untuk memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dalam acara Musyawarah Nasional (Munas) VI Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Nahdatul Ulama (BEM PTNU) yang dihadiri oleh seluruh pengurus BEM PTNU dari 272 kampus se Indonesia, Budi Gunawan mengatakan ancaman masuknya ideologi asing dapat menggoyahkan ketahanan ideologi nasional dan berdampak pada kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara.

Menurutnya, mahasiswa adalah bagian dari pemuda penggerak perubahan dan tentunya menjaga NKRI hal yang prioritas.

“Mahasiswa termasuk BEM PTNU memiliki peran strategis dalam membentuk masyarakat madani serta menjaga kedaulatan NKRI,” ujar BG, sapaan akrab Kepala BIN Budi Gunawan.

Diungkapkan oleh BG, pasca perang dingin kita berada di tengah-tengah pertarungan ideologi yang mempengaruhi cara pandang kita sebagai sebuah bangsa, termasuk Indonesia.

Sejumlah solusi strategi dipaparkan oleh BG dalam menangkal paham radikal, antara lain new public management dengan mendorong peningkatan peran masyarakat, mahasiswa dan organisasi masyarakat (ormas) Islam.

“Seperti NU sebagai organisasi Islam terbesar yang memiliki 80 juta orang untuk aktif dalam pengelolaan interaksi sosial di ranah publik, untuk menangkal berkembangnya radikalisme, terorisme, dan intoleransi,” tuturnya.

Ditambahkan oleh BG, termasuk pemberdayaan ekonomi lokal di lingkungan pesantren dan masyarakat melalui Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan koperasi, serta penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dan informasi.

“Tentunya bekerjasama terhadap pemerintah mengatasi hal hal untuk melawan intoleransi di negeri ini,” pungkas mantan Wakapolri yang saat ini juga menjabat Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia periode 2017-2022.

Sebelumnya diberitakan BIN melakukan penelitian dan menmukan fakta bahwa sebanyak 39 persen mahasiswa dari sejumlah Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia telah terpapar paham radikalisme.

Diakui oleh Kepala BIN Budi Gunawan, pihaknya tengah melakukan pengamatan penyebaran radikalisme di sejumlah kampus di 15 provinsi di dalam negeri yang  ditengarai menjadi tempat pembasisan calon-calon pelaku teror baru dari kalangan mahasiswa.

Hasil survei BIN pada 2017 menyebutkan, 39 persen mahasiswa dari berbagai PT di Indonesia telah terpapar paham-paham radikal. Sebanyak 24 persen mahasiswa dan 23,3 persen pelajar tingkat SMA juga setuju dengan jihad, untuk tegaknya negara Islam atau khilafah.

Riset BIN tersebut juga berbanding lurus dengan survei Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang menunjukkan bahwa saat ini radikalisme telah merambah dunia mahasiswa.

Kepala BIN Menilai, fenomena radikalisme dikalangan mahasiswa relatif sangat besar dari aspek potensi ancaman, apalagi sejarah mencatat potor perubahan di Indonesia digerakan oleh mahasiswa.

Maka dari itu, Budi Gunawan berpesan, jangan mahasiswa justru diperalat oleh kelompok radikal untuk memecah belah tatanan masyarakat yang sudah dibangun bersama.

Berita: Sigit | Foto: Istimewa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.