Bali Pintu Gerbang Dunia

Oleh: Brigjen TNI Tri Nugraha Hartanta, S.Sos*

BALI dikenal sebagai Pulau yang eksotik dengan alam yang indah, seni budaya yang beragam dan masyarakat  yang religius.

Bali juga memiliki perjalan sejarah nasional dari ekspedisi Gajah Mada tahun 1343-1846, hingga zaman kemerdakaan dengan sejarah heroik Puputan Margarana.

Sistem irigasi pertanian dikenal dengan nama Subakmendapat pengakuan dari dunia internasional tahun 2012 oleh UNESCO, sebagai Situs Warisan Dunia.

Dalam menjalani kehidupannya masyarakat Bali memiliki Falsafah Hidup yang dikenal dengan Tri Hita Karana yang berasal dari kata “Tri” yang berarti tiga, “Hita” yang berarti kebahagian dan “Karana” yang berarti penyebab.

Disimpulkan Tri Hita Karana adalah ‘tiga penyebab terciptanya kebahagian’.

Pada dasarnya hakikat ajaran Tri Hita Karana menekankan tiga hubungan manusia dalam kehidupan di dunia ini.

Ketiga hubungan itu meliputi hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam dan manusia dengan sesama manusia.

Ketiga hubungan terjalin dengan seimbang, selaras antara yang satu dengan yang lainnya maka kebahagian itu akan tercapai.

Disamping masyarakatnya yang ramah, Bali memiliki keanekaragaman budaya dan masyarakatnya yang religius. Sehingga pulau yang menyabet predikat pulau terindah di dunia menuai julukan Pulau Seribu Pura.

Perjalanan wisata internasional di Bali telah dimulai pada permulaan abad 20, ketika penjelajah asal Belanda Cornellis de Houtman bersandar di pulau Bali sewaktu melakukan ekspedisi tahun 1579.

Dalam perjalanannya berlayar mengelilingi dunia, de Houtman mencari rempah-rempah dari benua Eropa hingga tiba di Indonesia.

Kemudian pada tahun 1920 wisatawan dari Eropa mulai berdatangan ke Bali. Hal ini terjadi berkat kapal-kapal dagang Belanda KPM (Koninklijke Paketcart Maatsckapy) dalam misi mencari rempah-rempah ke Indonesia.

Disamping kapal-kapal tersebut juga mengangkut penumpang dalam perjalanannya ke Indonesia, dan memperkenalkan Bali di Eropa sebagai The Island of God yang artinya Pulau Dewata.

Wisatawan Eropa yang mengunjungi Bali saat itu, terdiri dari beberapa kalangan, diantaranya para seniman. Mereka terdiri dari seniman sastra, seniman lukis, dan seniman tari.

Berjalannya waktu, banyak seniman sastra yang menulis tentang keberadaan Pulau Bali.

Para satrawan yang pernah menulis tentang Bali adalah Dr Gregor Krause asal Jerman. Tahun 1921 Krause ditugaskan untuk membuat tulisan dan mengambil foto mengenai tata kehidupan masyarakat Bali. Disamping itu ada Mrs Menc (Ni Ketut Tantri) dengan bukunya Revolt In Paradise.

Seniman lukis R Bonet, Arie Smith dan Le Mayeur hingga Antonio Blanco juga wisatawan asing yang membuka mata dunia untuk mengenalkan Bali yang dituangkan dalam kanvas masterpiece mereka.

Sekarang ini Bali sudah sangat terkenal di mata internasional sebagai destinasi pariwisata baik wisata alam, seni budaya, adat istiadat, spa dan yoga. Bali juga menjadi langganan tempat terlaksananya acara yang bertaraf dunia.

Bali bukan lagi sebagai “Jendela Dunia Pariwisata,” Bali yang sebenarnya lebih luas dari itu. Bali sudah menjadi sebagai “Gerbang Dunia Pariwisata”. Karena berbagai wisatawan mancanegara datang ke Bali, dan sewaktu berada di Bali para wisatawan dapat melihat Indonesia lebih luas.

Berada di Bali, orang bisa mengenal dunia. Karena Bali adalah tempat orang-orang dari seluruh belahan dunia berkumpul untuk berlibur.

Bali adalah bagian dari Indonesia, dari sini kita dapat memperkenalkan potensi wisata pulau-pulau lain di Indonesia. Sehingga bisa mendongkrak gairah pariwisata Indonesia.

Begitu besarnya nama Bali di mata dunia, dan begitu termanjakannya masyarakat Bali akan dampak ekonomi yang diperoleh dari pariwisata.

Namun kita perlu mengingat kembali peristiwa-peristiwa kelam yang pernah terjadi pada Bali yang membuat kita selalu bercermin dan tersadarkan.

Kerusuhan akibat Pilpres tahun 1999 yang membuat Bali lumpuh, terjadinya tragedi Bom Bali tahun 2002 dan 2012 yang memakan banyak korban wisatawan asing dan lokal, juga bentrokan antar ormas yang juga memakan korban, dan terakhir dengan adanya demo anti reklamasi. Bali menjadi semakin dikenal di dunia dengan beragam peristiwa.

Adanya Konsulat negara-negara sahabat, media dan tv internasional membuka cakrawala Bali dan Indonesia lebih luas lagi. Media-media di seluruh dunia mengulas Bali bukan lagi sebagai destinasi pariwisata dunia, akan tetapi sebagai gerbang dunia, karena apapun yang terjadi di Bali dunia pasti mengetahuinya.

Ketika kembali kita diingatkan falsafah hidup masyarakat Bali ‘Tri Hita Karana’ atau tiga penyebab kebahagian, seharusnya kita tidak lagi terpikirkan akan kekuasaan, egoisme, materialisme, dan premanisme, yang kesemuanya berdampak buruk akan kondisi Bali kedepan.

Ketika hal buruk tersebut tidak dapat terhindarkan maka kehancuran Bali ada didepan mata, tidak ada lagi Bali yang damai, harmonis dan religius.

Tat Twan Asih yang juga menjadi falsafah hidup masyarakat Bali sebagai bentuk saling Asah, Asih dan Asuh sesama manusia perlu kembali diingatkan dan diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat.

Bali penuh falsafah hidup, Bali yang indah dan damai, Bali dengan seni dan budaya yang mengagumkan, dan Bali yang penuh Misteri.

Mari kita jaga, kita lestarikan dan kita cintai, karena Bali Gerbang Dunia.***

*Penulis adalah Kepala Badan Intelejen Negara Daerah (Kabinda) Bali

One thought on “Bali Pintu Gerbang Dunia

  • July 22, 2017 at 7:32 pm
    Permalink

    Hi, this is a comment.
    To get started with moderating, editing, and deleting comments, please visit the Comments screen in the dashboard.
    Commenter avatars come from Gravatar.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *