Atambua Jadi Destinasi Utama Cross Border Tourism Setelah Kepri

Atambua |
Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengupayakan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) bisa mencapai target 20 juta, dan wisatawan nusantara (wisnus) dengan pergerakan 275 juta.

Pariwisata perbatasan tahun ini diperkirakan menyumbang 18 persen dari total kunjungan wisman, sedangkan untuk tahun 2019 mendatang ditargetkan naik menjadi 20 persen atau sekitar 3,4 juta dari total 20 juta target wisman.

Salah satu daerah yang dibidik untuk bisa menyumbang banyak wisatawan mancanegara lewat cross border ini adalah Atambua, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang bersebelahan dengan negara Timor Leste.

“Kita ingin jadikan Atambua sebagai destinasi utama cross border tourism setelah Kepri (Kepulauan Riau),” ujar Menpar Arief Yahya, dalam siaran pers Kemenpar, Jumat (5/10).

Keunggulan utama Atambua, sambungnya, sebagai kekuatan pariwisata cross border tourism di Indonesia karena berbatasan darat dengan Timor Leste.

Menurut Arief, perjalanan wisatawan yang bisa ditempuh melalui melalui darat relatif mudah dilakukan dibanding dengan perjalanan wisatawan melalui udara atau laut.

Karena itu Menpar Arief menyarankan agar pihak-pihak terkait seperti Custom, Immigration, Quarantine and Security (CIQS) dapat mempermudah wisatawan untuk masuk ke Indonesia.

Disebutkan oleh Arief, dirinya sudah melakukan 2 kali kunjungan kerja di Atambua yang menjadikan kunjungan kerja terlama ke satu daerah.

“Karena kita tahu strategi pariwisata kita belum sistemik atau menjadikan cross border tourism sebagai yang utama. Padahal di dunia potensi (cross border tourism) besar maka dari itu saya ingin lihat sendiri dan support Belu (Atambua) sebagai destinasi utama cross border tourism,” katanya.

Dijelaskan oleh Arief, keberadaan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) yang sudah baik, salah satunya PLBN Mota Ain, menjadikan faktor aksesibilitas sudah tidak ada kendala.

Sementara tindak lanjut yang perlu dilakukan adalah mengembangkan akses transportasi lain seperti Yacht yang menurut Menpar Arief Yahya sangat cocok dikembangkan di Atambua.

“Untuk amenitas juga cenderung mudah. Kita dorong di Belu atau Atambua ini mengedepankan konsep nomadic tourism karena relatif murah dan mudah dipindah-pindah. Nanti kita akan undang investor untuk nomadic tourism ini,” tuturnya.

NTT tahun ini memang ditargetkan sebagai penyumbang wsiman crossborder area kedua setelah Kepulauan Riau (Kepri).

NTT ditargetkan menyumbang wisman sebesar 1.635.354 pada 2018, satu tingkat lebih kecil dibawah Kepri yang tahun ini ditargetkan menyumbang wisman sebesar 2.187.000.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, wisman Timor Leste pada periode Januari hingga Juli 2018 sudah mencapai 1.005.600. Naik 89,16 persen atau 531.600 wisman dibanding periode yang sama di tahun lalu.

Berita: Mh | Foto: Istimewa/Ilustrasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: