Khutbah Idul Fitri Ustad Dhiyauddin

Tidak terasa sudah 30 tahun yang lalu. Khutbah idul fitri yang membuat kami semua tertegun, sesenggukan, meneteskan air mata membasahi pipi, berlalu. Kami semua menangis mendengar khutbah sang kiai kami di sebuah masjid di bilangan kayumanis, wilayah timur Jakarta, justru dengan tema khutbah Idul Fitri sederhana yang berulang-ulang setiap tahun, bagaimana berbakti kepada kedua orang tua, terutama ibu.

Ustad Dhiyauddin, sang guru yang telah berpulang di tahun 1994 memang menginspirasi kami semua sejak remaja. Kedalaman ilmu, kesalehan, cara mengajar, dan keluwesan dan keluasan pergaulan serta bertutur khas betawi dan kultur Nahdlatul Ulama (NU) yang mudah dipahami, membuat kecintaan murid-murid dan jamaahnya semakin lekat.

Ustad Dhiya’ begitu kami semua memanggil, tidak pernah memilih tema khutbah lain, selain mengenai di atas. Padahal di era itu, tema-tema menarik dan cukup berkelas sedang menyeruak di ruang publik, seperti hubungan umat islam dengan pemerintah orba yang menurut pengamat sedang mesra sejak pendirian organisasi Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Juga tema perjuangan dan kebangkitan umat dari berbagai kedzoliman dan penindasan, persatuan umat atau ukhuwah Islamiyah, persaudaraan kebangsaan, semangat toleransi dalam perbedaan/isu pluralisme, Islam ke-indonesiaan ala cendikiawan Nurcholis Madjid (Cak Nur), fenomena Gus Dur, atau juga yang sangat fenomenal pembantaian terhadap muslim Bosnia, dan tentunya juga tema sepanjang masa, tentang pembelaan perjuangan rakyat Palestina terhadap Israel.

Masjid-masjid besar di Jakarta, sepanjang saya amati hampir pasti memanfaatkan momentum idul fitri ketika itu dengan mengambil tema-tema di atas yang memang relatif cocok dengan Islam perkotaan yang selalu mengikuti isu-isu aktual tentang dunia islam, globalisasi dan pengaruh teknologi informasi yang saat itu mulai bangkit dengan internet sebagai wahana baru dalam dunia informasi digital.

Ustad Dhiya’ bukan tidak paham isu-isu itu, karena di dalam berbagai pengajiannya yang ia asuh, sesekali sang ustad juga bercerita tentang tema-tema berat itu dengan gaya NU-Betawi yang khas, sehingga kami yang awam menjadi mudah memahaminya. Kalau sudah tiba materinya, tiba juga pembahasannya, dengan demikian, seiring perjalanan waktu berbagai tema-tema modern seperti di atas, hingga dinamika persoalan umat akhirnya juga menjadi tidak terhindarkan ikut diperbincangkan.

Tetapi entah mengapa, Ustad Dhiya’ selalu memilih tema berbakti kepada orang tua pada setiap khutbah lebaran. Saban tahun, pagi di idul fitri, di masjid itu, dengan suara parau dan basah mengingatkan kami semua tentang sosok ayah dan ibu, yang telah melahirkan, membesarkan dan menyayanginya tanpa batas. Dengan suara bergetar, ustad juga mengingatkan dosa-dosa kita terhadapnya, sering berkata-kata kasar, suka membantah dan tidak pernah mendengarkan lagi nasihatnya.

“Kembalilah segera dari masjid ini, temui yang pertama orang tua, ibu kita, umi kita, yang sudah tua, yang mungkin sakit-sakitan. Minta ridho kepadanya. Peluk tubuhnya dengan erat, minta maaf atas dosa-dosa kita kepadanya. Bagi orang tua kita yang telah tiada, doakan, bacakan al fatihah, sambung silaturahmi dengan yang masih ada” tutur ustad mengingatkan.

Semua jamaah tertunduk, suasana hening yang hanya beberapa menit khutbah itu seperti menghentak-hentak batin, rasa bersalah, berdosa, seraya meneteskan air mata, menangis. Semua jamaah, dari orang tua, anak muda dan bahkan anak-anak merasakan suasana khutbah yang indah, sejuk dan mengharubiru. Tidak ada anak-anak yang menangis sebagaimana biasa terjadi di banyak momen sholat Idul Fitri.

Ustad berkutbah tidak sampai lima belas tetapi sangat membekas, mengena dan menghantam kami sebagai makluk pendosa dihadapan orang tua. Kami dibuatnya seperti tidak ada apa-apanya. Mau yang berpangkat, berkedudukan, bergelar, berstatus sosial tinggi, berumah besar, bermobil mewah, seolah semuanya tidak ada artinya tanpa ridho orang tua.

Ustad Dhiya’ yang kharismatik itu, mengambil tema yang mengena, tema universal yang dibutuhkan insan manusia saat itu untuk kembali menjadi fitri. Baginya kepatuhan terhadap orang tua tidak memerlukan variable lain. Tidak ada excuse. Tidak memerlukan alasan untuk mendebat dengan dalil-dalil tercanggih apapun. Ketertundukan dan keberserahan diri jamaah pun menjadi sempurna di bawah ayat-ayat mengenai birrul walidain yang sebenarnya sudah kita pahami sejak kecil.

Kemarin, sholat Idul Fitri di pelataran komplek saya yang kecil, di bilangan Jatiwaringin, Pondok Gede, mengundang kawan lama, ustad Aulia Wafdi untuk berkhutbah. Di akhir ceramahnya, ustad Wafdi kembali mengurai soal bakti terhadap orang tua dengan suara yang berat membuat seluruh jamaah menunduk, haru, dan tidak terasa air mata membasah di pipi. Momen Idul Fitri memang momennya orang-orang tua kita, tidak ada idul fitri, tanpa mengingat jasa dan kebaikan orang-orang tua kita. Khutbah ustad Wafdi kembali membuka memori saya kepada Ustad Dhiya’ tiga dekade lalu.

Mohamad Soleh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: