Bosas, Diperhitungkan dan Dianggap Angker

Jakarta |
Bosas sebuah band metal cadas asal kota Solo, Jawa Tengah.

Bosas yang berarti “Bocah Saraf Asli Solo” terinspirasi dari nama sebuah gang atau jalan kecil di sudut kota yang terkenal dengan kerajinan batiknya itu.

Eksistensi para personil Bosas bisa dibilang “bukan orang baru” dalam dunia metalheads Indonesia.

Mamo, sang penggebuk drumm band beraliran Thrash Death Metal ini mengatakan, dirinya dan para personil Bosas sudah aral melintang di dunia musik metal.

Sebelum mendirikan Bosas, bersama Hestu (gitar/vocal), Black/Slamet (bass), Mamo sudah berkecimpung di dunia musik underground dengan tergabung bersama band Meduza tahun 1992 di Jakarta.

Seiring berjalannya waktu, Meduza membubarkan diri 4 tahun kemudian. Namun kegagalan Meduza tidak menyurutkan semangat Mamo untuk terus eksis bermusik.

Di tahun 1996 Mamo kembali membentuk band bernama Idubachyn.

Masih bersama Black (Slamet) yang saat itu bertransformasi menjadi gitar sekaligus vocal. Untuk posisi bass diisi oleh Dede Bule.

Namun sangat disayangkan, karena kesibukan pekerjaan para personilnya, nasib Idubachyn pun tidak berbeda dengan Meduza yang tercerai-berai.

Hingga akhirnya Mamo menemukan “kedamaian” yang ada pada Bosas yang ia bentuk sejak tahun 2010.

“Ternyata menyatukan persepsi di band itu memang tidak mudah,” ujar Mamo kepada redaksi metaluban.com.

Menyatukan visi bermusik dari beberapa kepala, hingga menjadi satu tidaklah gampang. Yang terpenting adalah kemauan untuk berpegang pada satu prinsip dan filosofi.

“Kuncinya adalah komunikasi,” ujar Mamo membeberkan kartu rahasia keakraban Bosas.

Perjalanan Bosas sejak awal terbentuk hingga sekarang, karena adanya komitmen dari hasil komunikasi yang baik dan saling terbuka.

Awal terbentuk Bosas, kata Mamo, memiliki 4 personil, yaitu Polay (gitar), Fredy (bass), Uzi Bengek (vocal) , dan Mamo (drumm).

Fredy dan Polay hengkang karena kesibukan pekerjaan. Posisinya digantikan oleh Ambon (bass) dan Iyan (Aditional gitar), yang akhirnya juga minggat dari Bosas.

Seperti band pada umumnya Bosas juga mengalami dinamika, berujung personilnya menjadi 3 orang.

Menyisakan Mamo, Dimas ex- Ferocite yang mengisi posisi gitar dan Bengek tetap pada vocal.

Menurut Mamo formasi terakhir ini adalah disaat kondisi terbaik bagi Bosas.

Saat ini Bosas sudah memiliki 8 lagu dan semua proses rekaman dilakukan di Studio K.

Dengan modal ini, Bosas memiliki keyakinan menjadi band yang diperhitungkan dan dianggap “angker” di jagat metal Indonesia.

“Kami yakin bisa maju menerobos kompetisi ketat beringasnya music cadas yang makin panas,” tegas Mamo.

Dirinya berharap hasil kreasi Bosas dapat diterima oleh para metalhead di dalam negeri maupun diluar sana.

Berita: Fy | Foto: Istimewa/Dok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.