Ames Abadi: Dari Temanggung ke Panggung Semesta, Menjejak Seni yang Menyembuhkan
Jakarta – Ketika matahari terbit di Temanggung, Jawa Tengah, pada 18 April suatu tahun yang enggan disebutnya, lahirlah seorang anak yang kelak menapaki hidup dengan cara berbeda: mendengarkan bisik alam.
Anak itu bernama Ames Abadi, dan sejak awal ia lebih percaya pada bahasa angin daripada kebisingan dunia.
Amesh tumbuh bukan dari sekolah seni bergengsi, melainkan dari universitas alam semesta. Pepohonan, musim, perjumpaan, hingga kesunyian adalah guru-gurunya.
Ia meyakini bahwa ilmu seni butuh pemahaman, tetapi inti seni adalah penghayatan. Maka setiap kali menggambar, ia tidak sekadar menggerakkan tangan, ia menggerakkan batin.
Dalam perjalanan hidupnya, Amesh menjadikan B3, yakni Belajar, Bekerja, Berkarya sebagai mantra yang terus diulang.
Ia juga bersandar pada tiga pilar budaya: logika, etika, estetika. Pilar inilah yang membimbingnya menembus berbagai kecamuk zaman tanpa kehilangan arah.
Sejak awal 2000 an, Amesh menempuh jalan seni yang berliku. Ia bermain teater, bernyanyi di atas panggung, mencipta lagu, dan lama-lama jatuh cinta pada satu medium yang paling jujur, drawing.
“Menggambar mengajarkan saya untuk sabar,” ucapnya. “Ia melatih saya meraba suara hati, mendengar sesuatu yang tak kasat mata,” ujarnya.
Bagi Amesh, seni adalah kegiatan spiritual, sebuah panggilan batin untuk menyempurnakan kemanusiaan.
Menurutnya, karya bukan dibuat untuk memenuhi kebutuhan pokok, melainkan untuk memenuhi kekosongan jiwa yang hanya bisa diisi oleh keindahan dan kejujuran.
Maka ketika publik melihat goresan tinta hitam-putihnya, sesungguhnya mereka sedang melihat potongan perjalanan batin: percakapan rahasia antara manusia dan semesta.
Namun Amesh bukan hanya pelukis. Ia juga seorang musisi, vokalis, sekaligus pencipta lagu yang telah banyak tampil di pentas-pentas seni di tanah air.

Dalam musik, ia menemukan cara lain untuk bercerita. Ketika melukis ia bersuara lewat garis, ketika bernyanyi ia bersuara lewat nada.
Setelah puluhan karya dan perjalanan panjang, Amesh tetap memilih hidup dengan cara paling sederhana, yaitu mengikuti suara hati.
Ia percaya bahwa selama ia setia pada semesta, karya-karyanya akan terus lahir, menghibur, menenangkan, dan mengundang setiap orang untuk melihat dunia dengan mata yang lebih lembut.
Dalam diri Ames Abadi, seni bukan sekadar profesi, melainkan doa panjang yang ditulis dengan tangan, dinyanyikan dengan suara, dan dihayati dengan jiwa. (Gate 13/Foto: Ist./Dok.)
Discover more from sandimerahputih.com
Subscribe to get the latest posts sent to your email.

